Menulis puisi adalah salah satu
kegiatan menulis kreatif di samping menulis cerpen, novel, dan naskah drama.
Kegiatan menulis puisi terkesan ‘seram’ dan menjadi momok bagi sebagian siswa.
Hal ini mungkin disebabkan oleh contoh-contoh puisi yang disajikan guru terlalu
berat dan tidak sesuai kemampuan siswa, sehingga dalam benak siswa terbentuk
pikiran bahwa puisi=sulit=tidak bermanfaat. Padahal, puisi sangat bermanfaat
dalam mengasah batin yang dimiliki seseorang, sehingga puisi tidak dapat dipisahkan
dari kegiatan sehari-hari.
Mau bukti?
Sms ungkapan cinta dari kekasih adalah
puisi. Lirik-lirik dalam lagu adalah puisi. Deretan kata yang dipajang sebagai
foto profil facebook atau BBM adalah puisi. Bahkan, kalimat nasihat dari orang
tua juga meupakan puisi.
Ya, semua deretan kata yang mengandung
maksud tertentu dan ditulis secara indah merupakan sebuah puisi. Jadi, semua
orang bisa menulis puisi. Hanya saja, untuk menghasilkan sebuah puisi seperti
yang dilahirkan oleh seorang sastrawa memang diperlukan bakat, gaya khas, dan
pengalaman. Saya pun berkali-kali mencoba tak pernah bisa menulis puisi seindah
dan sekuat puisi Chairil Anwar, WS Rendra, Taufiq Ismail, MH Ainun Najib, dan
maestro lainnya. Saya juga tak pernah bisa menulis puisi tentang cinta. Jika dipaksakan
menulis puisi cinta, maka hanya seperti deretan kata-kata gombal tak berharga.
Puisi-puisi yang saya tulis selalu saja bertemakan sosial masyarakat dan
perjuangan.
Berikut adalah beberapa puisi pertama
saya. Puisi-puisi berikut adalah puisi yang pertama kali saya tulis untuk
disusun menjadi sebuah antologi. Masih sangat dangkal memang, masih jauh dari
kesan indah.
GELANDANG NASIB
Lagi-lagi kumakan daki hari ini
Peluh dan pasi menyesak dahagaku
Menyusuri jalur berasap
Kian lama kian meratap
..
Lagi-lagi kududuk ditepi kali
Tangisi sepi yang kian memerangi
Karena tak ada yang sudi
Melemparku sesuap nasi
..
Aku ini kaum papa
Terpontang-panting menyisir luka
Kata mereka aku tanggungan negara
Tapi ku ditendang begitu saja
..
Tiada hasil kumenggelandang hari ini
Aku bosan dan aku pulang
Disambut gubuk reot nan kelam.
AKU GUGUR
Jangkar haluan tinggalkan dermaga
Sisakan mata berkamit doa
Atas kepergian pahlawan negara
..
Aku pergi hendak bertempur
Pertahankan lini kekuasaan pertiwi
Yang menggigil sepanjang hari
Karena digagahi londo-londo melayu
..
Perbatasan itu latar ceritaku
Saksi bisu kisah tua
Sengketa senjata sudah bisa
Damailah yang dimangsa
Nyawa terbang sia-sia
Berlalu lalang bebas membahana
Membelah samudera menjadi tiga
Uang, Kekuasaan, dan Kehormatan.
..
Aku pergi hendak bertempur
Dan aku gugur…
KANGMAS
Nimas pasrah
Terkungkung lemas di pembaringan pengap
Tak datang jua yang nimas nanti
Seekor jantan yang nimas ratapi
..
Kini ronaku bersemu merah
Bukan merekah tetapi marah
Atas status hampa tersandang
Istri tapi tak ditunggangi
Tak dinafkahi malah ditinggal pergi
..
Kangmas kenapa kau lari
Puaskah kau rasakan bakpau jalanan?
Tinimbang aku yang halal bagimu
Kangmas, aku benci kau
KOMANDAN
SEJATI
Ketuka langkah komandan terdengar
laman-laman
Semakin dekat seoknya semakin kentara
Melangkah tegap memanggul senjata
Menuju lubang kandang berisi prajurit
belum siap tempur
..
Ia tempa prajuritnya dengan rumus eksak
dengan filosofi yang ba-bi-bu
seraknya terdengar sumbang dan
membosankan
namun Ia tak peduli dan tetap percaya
diri
terus menyanyikan lagu ilmu yang
menawan.
..
Duka tak dicecap
Hanya Ia rasa suka dan tawa
Semata demi satu asa
Final penentu masa depan
Yang semakin tak jelas juntrungnya.




