Jumat, 11 Mei 2012

Mari Menulis Puisi (Puisi-Puisiku)


            Menulis puisi adalah salah satu kegiatan menulis kreatif di samping menulis cerpen, novel, dan naskah drama. Kegiatan menulis puisi terkesan ‘seram’ dan menjadi momok bagi sebagian siswa. Hal ini mungkin disebabkan oleh contoh-contoh puisi yang disajikan guru terlalu berat dan tidak sesuai kemampuan siswa, sehingga dalam benak siswa terbentuk pikiran bahwa puisi=sulit=tidak bermanfaat. Padahal, puisi sangat bermanfaat dalam mengasah batin yang dimiliki seseorang, sehingga puisi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sehari-hari.
            Mau bukti?
Sms ungkapan cinta dari kekasih adalah puisi. Lirik-lirik dalam lagu adalah puisi. Deretan kata yang dipajang sebagai foto profil facebook atau BBM adalah puisi. Bahkan, kalimat nasihat dari orang tua juga meupakan puisi.
Ya, semua deretan kata yang mengandung maksud tertentu dan ditulis secara indah merupakan sebuah puisi. Jadi, semua orang bisa menulis puisi. Hanya saja, untuk menghasilkan sebuah puisi seperti yang dilahirkan oleh seorang sastrawa memang diperlukan bakat, gaya khas, dan pengalaman. Saya pun berkali-kali mencoba tak pernah bisa menulis puisi seindah dan sekuat puisi Chairil Anwar, WS Rendra, Taufiq Ismail, MH Ainun Najib, dan maestro lainnya. Saya juga tak pernah bisa menulis puisi tentang cinta. Jika dipaksakan menulis puisi cinta, maka hanya seperti deretan kata-kata gombal tak berharga. Puisi-puisi yang saya tulis selalu saja bertemakan sosial masyarakat dan perjuangan.
Berikut adalah beberapa puisi pertama saya. Puisi-puisi berikut adalah puisi yang pertama kali saya tulis untuk disusun menjadi sebuah antologi. Masih sangat dangkal memang, masih jauh dari kesan indah.
 
GELANDANG NASIB
Lagi-lagi kumakan daki hari ini
Peluh dan pasi menyesak dahagaku
Menyusuri jalur berasap
Kian lama kian meratap
..
Lagi-lagi kududuk ditepi kali
Tangisi sepi yang kian memerangi
Karena tak ada yang sudi
Melemparku sesuap nasi
..
Aku ini kaum papa
Terpontang-panting menyisir luka
Kata mereka aku tanggungan negara
Tapi ku ditendang begitu saja
..
Tiada hasil kumenggelandang hari ini
Aku bosan dan aku pulang
Disambut gubuk reot nan kelam.

AKU GUGUR
Jangkar haluan tinggalkan dermaga
Sisakan mata berkamit doa
Atas kepergian pahlawan negara
..
Aku pergi hendak bertempur
Pertahankan lini kekuasaan pertiwi
Yang menggigil sepanjang hari
Karena digagahi londo-londo melayu
..
Perbatasan itu latar ceritaku
Saksi bisu kisah tua
Sengketa senjata sudah bisa
Damailah yang dimangsa
Nyawa terbang sia-sia
Berlalu lalang bebas membahana
Membelah samudera menjadi tiga
Uang, Kekuasaan, dan Kehormatan.
..
Aku pergi hendak bertempur
Dan aku gugur…

KANGMAS
Nimas pasrah
Terkungkung lemas di pembaringan pengap
Tak datang jua yang nimas nanti
Seekor jantan yang nimas ratapi
..
Kini ronaku bersemu merah
Bukan merekah tetapi marah
Atas status hampa tersandang
Istri tapi tak ditunggangi
Tak dinafkahi malah ditinggal pergi
..
Kangmas kenapa kau lari
Puaskah kau rasakan bakpau jalanan?
Tinimbang aku yang halal bagimu
Kangmas, aku benci kau
KOMANDAN SEJATI
Ketuka langkah komandan terdengar laman-laman
Semakin dekat seoknya semakin kentara
Melangkah tegap memanggul senjata
Menuju lubang kandang berisi prajurit belum siap tempur
..
Ia tempa prajuritnya dengan rumus eksak
dengan filosofi yang ba-bi-bu
seraknya terdengar sumbang dan membosankan
namun Ia tak peduli dan tetap percaya diri
terus menyanyikan lagu ilmu yang menawan.
..
Duka tak dicecap
Hanya Ia rasa suka dan tawa
Semata demi satu asa
Final penentu masa depan
Yang semakin tak jelas juntrungnya.

Pers Masa Kini


Oleh Ulfa Khasanah

Berita terakhir yang menjadi sorotan ialah tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi SSJ 100 di gunung salak, Bogor, Jawa Barat. Liputan mengenai berita tersebut di salah satu stasiun televisi menimbulkan kegusaran dalam benak saya. Dalam tayangan tersebut terdapat pemandangan yang cukup kontras – tiga orang (mungkin keluarga) berpelukan dan menangis tersedu dengan wajah iba, sedang di sampingnya berdiri seorang cameramen yang tengah menyorot adegan haru tersebut seraya tersenyum lebar-
            Sekilas memang tak ada yang ganjil dengan gambar tersebut. Sebagian orang mungkin memandang wajar. Tapi, pernahkan kita berpikir bagaimana perasaan kita andai berada di posisi orang yang diliput?
            Hal ini membawa awang saya flashback menelusuri perkembangan pers beberapa saat terakhir. Oya, kita kesampingkan saja pemandangan itu. Kita anggap saja  bapak kameramen sedang ‘alpa’. Kini kita bahas saja mengenai kebebasan pers. Dalam sudut pandang saya, telah terjadi dinamisme dalam kebebasan pers. Sepak terjang pers telah memiliki payung hukum yang jelas dan diatur dalam UU pers, sehingga tak ada lagi pers yang takut menyampaikan berita-berita miring mengenai tingkah polah para petinggi negeri bahkan presiden sekalipun.
            Kini dengan mudahnya dapat kita temukan berbagai informasi mengenai segala sesuatu yang dibutuhkan, mulai dari pendidikan, kriminal, perpolitikan, hingga masalah kamar dan dapur. Kemajuan yang terjadi patut kita apresiasi karena memberi dampak positif kepada pola pikir masyarakat. Meski begitu, ada plus tentu juga ada minusnya. Di luar apresiasi yang kita berikan, kita sebagai warga masyarakat juga patut mengawal serta memilah dan memilih dalam mengkonsumsi berita yang sehat karena tak jarang terdapat beberapa berita yang memiliki kualitas minus. Kita tentu sering menjumpai berita yang terlalu mendiskriditkan lembaga tertentu, oknum tertentu, maupun kelas politik tertentu. Berita tersebut menggunakan kata-kata propaganda yang seolah mengompori pembaca untuk melakukan tindakan seperti yang diharapkan oleh penulis berita. Nah, itulah contoh berita yang memiliki kualitas minus.
Menurut hemat saya, berita yang dinilai memiliki kualitas minus bukan hanya berita yang tidak cerdas dan actual, melainkan berita yang tidak lagi berumus 5W+1H (what, where, when, who, why, and how) tetapi telah dibumbui dengan 2P+0 (persuation, propaganda, and opinion). Seperti telah kita ketahui bersama, pemakaian rumus 5W+1H tentulah mensyaratkan keobjektivitasan dan fakta sebagai suatu kemutlakan. Namun, dengan penambahan 2P+0 kedua syarat tersebut menjadi kabur. Syarat keobjektivitasan berubah menjadi subjektivitas, dan fakta tentulah berubah menjadi opini.
            Sudahlah, tulisan ini hanya ngalor ngidul. Semoga pembaca menangkap apa yang saya maksud. heheheeee. try be smart reader :)